Depok (arrahmah.com) - Senin 11 Agustus 2008, Stephen Smith, Menteri Luar Negeri Australia,
menjumpai Menteri Luar Negeri Hasan Wirayudha di Jakarta. Salah satu
tujuannya adalah melobi pemerintah Indonesia untuk memberikan
pengampunan (clemency) terhadap tiga terpidana mati warga negara
Australia yang tersangkut kasus Narkoba di Bali pada tahun 2005 yang
terkenal dengan julukan The Bali Nine.
Uniknya dalam kesempatan yang sama Menlu Australia tersebut tidak
membahas sama sekali perihal hukuman mati terhadap tiga terpidana mati
bom Bali (Amrozi, Imam Samudera dan Mukhlas) yang kini tengah menanti
eksekusi mati setelah pelbagai upaya hukum mentok. Alias, pemerintah
Australia seperti rela Amrozi cs harus dieksekusi mati.
|
|
Salah satu kelebihan Kaum Yahudi dibandingkan umat-umat lainnya adalah kebanggaan mereka terhadap perjalanan sejarah kaumnya sendiri. |
|
Prahara ekonomi, sosial dan politik Setiap zaman memang menemukan tantangannya sendiri, sebelum ini tepatnya dalam rentang tahun 1950 hingga 1960-an kita pernah mengalami sebuah fase kebangkrutan ekonomi tingkat tinggi, sampai – sampai muncullah fenomena “gunting syafrudin” yakni menggunting uang kertas menjadi dua dengan penyesuaian nilai untuk mengatasi devaluasi dan menekan inflasi, langkah brilliant Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai Menteri Keuangan (selanjutnya menjabat Gubernur Bank Indonesia pertama) kala itu menuai pujian dari dalam dan luar negeri namun badai krisis memang teramat dahsyat menerpa lantaran lemahnya fundamental ekonomi bangsa kita saat itu yang berimplikasi sosial dengan terjadinya kelangkaan minyak, lonjakan harga kebutuhan pokok masyarakat dan krisis pangan akut yang diperparah dengan carut marut tata kelola pemerintahan akibat memanasnya suhu politik sebelum akhirnya mencapai klimaknya pada akhir tahun 1965 dengan mengerasnya tiga tuntutan rakyat (TRITURA) yaitu Bubarkan PKI, Turunkan Harga dan Bersihkan kabinet (pemerintah) dari unsur – unsur PKI. |
|
Ketika kita bicarakan : “ Menakar Peran Politik Umat Islam ”, seolah-olah kita masuk pada satu pilihan kondisi yang –terlalu berani- melakukan proses pengkajian terhadap hal-hal yang sangat rentan melahirkan pertentangan pemahaman. Padahal berbicara Umat Islam secara otomatis kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri, yang telah berbai’at di hadapan Allah untuk siap menjadi penerus perjuangan Rasulullah SAW dan siap berpegang teguh pada tali (agama) Allah serta berimplikasi pada satu sikap yang siap untuk tidak bercerai berai, sesuai dengan firman Allah SWT : Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai (QS. Ali Imran : 103 ). |
|
Manusia adalah produk sejarah, lingkungan sosial, dan alam, bukan hanya produk adat istiadat nenek moyangnya. Pendapat Ibnu Khaldun yang dituangkan dalam karya besarnya "Al Muqaddimah" yang ditulisnya pada abad 13, relevan dalam menyoroti proses pendidikan di Indonesia. Perkembangan manusia tidak lepas dari kultur di mana dia berada. Kultur di sini bukan hanya me-refer pada kebudayaan sebatas suku atau etnis tertentu, melainkan menjadi suatu konstruksi kombinasi multi dimensi, yaitu latar belakang agama, suku/etnik, lingkungan sosial-budaya dan alam seseorang dalam seluruh proses kehidupannya. Maka proses integrasi berbagai kultur yang dimiliki dan dan terlibat dalam proses transformasi sosial, mencirikan proses multikulturalis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada umumnya, proses internalisasi nilai-nilai dan norma agama diterima, disepakati, didukung dan dikembangkan serta dijadikan pedoman oleh ummatnya dari berbagai kultur di dalam seluruh sendi kehidupannya. Oleh sebab itu, diasumsikan bahwa agama cukup dominan mewarnai proses multikulturalis dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Nilai-nilai agama mengalami proses interpretasi ke dalam diri aktor-aktor/agen, yang kemudian mereproduksi dalam perilaku. Bagaimana agama berperan dalam transformasi sosial dan implikasinya terhadap pembentukan perilaku masyarakat di Andalusia Spanyol, membawa pemikiran Ibnu Khaldun kepada konsep civil society yang unik dan berbeda dengan yang kita temui dalam perkembangan civil society selama ini, yang kemudian oleh beberapa kalangan diterjemahkan sebagai masyarakat madani. |